Selasa, 05 Mei 2015

Pengertian Aqidah Islam

Pengertian Aqidah Islam – Yang menjadi dasar aqidah islam ialah Al-Qur’an dan Al-Hadits (sunnah Rasul). Biasanya keyakinan seseorang itu akan timbul setelah ada alasan-alasan yang dikemukakan, baik oleh ayat-ayat Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul. Mungkin ada orang berkata bahwa dengan akalpun manusia dapat menentukan mana yang baik dan yang buruk. Hal ini untuk sementara dapat diterima, akan tetapi jika dipikir jelas bahwa dengan akal manusia dengan segala kerterbatasannya tidak bisa menjamin dirinya untuk selalu berada dijalan yang benar. Maka wahyu dan sunah rasul-lah yang akan selalu membimbingnya. Sekaligus menjadi landasan atau dasar aqidah islam. Maka aqidah islam bertujuan untuk membimbing dan mengarahkan manusia kejalan yang lurus dan supaya dapat memiliki landasan hidup yang benar dan taqwanya selalu terbina.
Ilustrasi

Arti aqidah menurut bahasa, Aqidah berasal dari bahasa arab yaitu dari kata Aqd yang artinya ikatan dua utas tali menjadi satu buhul. Jadi aqidah ialah ikatan kehendak antara hamba (manusia) dan khaliq (Allah). Kalau seseorang rela diikat oleh peraturan Allah, maka orang ini diberi julukan Mukmin.
 
Kata aqidah di dalam al-qur’an bisa dilihat di antaranya dalam surat al Maidah ayat 1, sebagai berikut:
Artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”. Aqad (perjanjian) mencakup janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan dengan sesamanya. Dalam surat dan ayat yang lain disebutkan. Artinya: “Berkata Musa: Ya Tuhanku  lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan ikatan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”. (Q.S Thaha ayat 25-28).

Arti aqidah menurut istilah, Aqidah ialah ssuatu yang mengharuskan hati membenarkannya, yangmembuat jiwa tenang tentram kepadanya dan yang menjadi kepercayaan seseorang yang bersih dari kebimbangan atau keraguan. Setelah memperhatikan pengertian aqidah, baik menurut bahasa maupun istilah mak kita coba membuat pengertian Aqidah Islam. Aqidah Islam ialah dasar-dasar/pokok-pokok kepercayaan atau keyakinan yang harus diyakini kebenarannya oleh semua orang Islam, bersarkan dalil-dalil Naqli dan Aqli. Dan kepercayaan itu harus betul-betul bersih dari kebimbangan atau keraguan, baik yang berhubungan dengan jasmani maupun rohani.

Pengertian akhlak

Pengertian akhlak – perkataan akhlak berasal dari bahasa arab, bentuk jama’ dari khuluq yang mengandung arti: budi pekerti, perangai,tingkah laku, atau tabiat, watak. Selain istilah-istilah tersebut biasa dipergunakan istilah lain seperti: kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia; moral, etik dalam bahasa inggris; ethos, ethikos dalam bahasa yunani. Adapun pengertian akhlak menurut Istilah yang dikemukakan sebagian ulama sebagian ahli, yakni: 

Menurut Ibnu Maskawaih, Akhlak ialah:
“Sikap seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan (terlebih dahulu)”.

Menurut Imam Al-Gazali, Akhlak ialah:
“Ungkapan tentang sikap jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang mudah dan tidak memerlukan pertimbangan/pikiran (lebih dulu)”.
Ilustrasi

Akhlak adalah suatu daya yang telah bersemi dengan jiwa seseorang hingga dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan direnungkan lagi. Perkataan akhlak bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Qur’an yang Artinya: “sesungguhnya engkau Muhammad mempunyai budi pekerti yang luhur” (QS Al-Qalam ayat 4).

Apabila perbuatan-perbuatan itu dipandang baik atau mulia oleh akal dan ajaran islam (syara’), maka disebut Akhlakul Mahmudah/Karimah (terpuji/mulia). Kalau meminjam istilah lain disebut Moral Religius yang Monoteis, Sebaliknya jika perbuatan-perbuatan itu dipandang buruk oleh akal dan syara’, mak disebut Akhlakul Madzmumah (tercela). Atau disebut juga dengan Moral Sekuler.

Sebagai umat islam, tentu saja kita harus mengikuti dan melaksanakan moral religius yang monotheis (moral agama yang islami), bukan moral sekuler . dengan kata lain kita menjadi orang islam yang berakhlak islam. Untuk itu menjadi suri tauladan bagi kita adalah pribadi Rasulullah SAW, seperti yag disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an yang Artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada diri (Rasulullah) suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat dari Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al-Ahzab ayat 21).

Dalam ajaran Islam, Akhlak baik itu terbagi kepada:

  1. Akhlak kepada Allah SWT
  2. Akhlak terhadap Rasulullah
  3. Akhlak terhadap sesama manusia (ibu/bapak, orang yang lebih tua, yang lebih muda, sebaya, saudara-saudara kita, tamu, guru sesama muslim atau non muslim).

Manusia Sebagai Khalifah di Bumi

Manusia Sebagai Khalifah di Bumi – sebelum Allah menciptakan manusia, telah terjadi dialog antara Allah dan para malaikat. Isi dialog tersebut tentang rencana penciptaan manusia. Kesimpulan dialog. Allah akan menciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Khalifah bisa diartikan pemimpin atau penguasa. Jadi manusia berfungsi sebagai penguasa bumi.
Khalifah Umar

Allah berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 165 sebagi berikut. Artinya: “Dan dialah (Allah) yang menjadikan kamu sekalian (ummat manusia) seebagi penguas-penguasa di bumi, serta melebihkan sebagiaan dari kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kamu dalam hal-hal yang telah dikaruniakan kepada kamu”.

Sebagaimana layaknya, setiap penguasa harus mengatur. Yang diatur adalah bumi. Untuk mengatur bumi dan isinya, manusia dianugrahi akal yang sempurna. Dengan akalnya manusia data mencapai kemajuan dalam segala bidang. Untuk itu manusia berkewajiban mengola bumi serta isinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya. Karena itu segala yang terdapat diatas bumi, lautan, begitu pula yang terdapat diperut bumi haruslah diolah, digarap dan digali agar hasilnya dapat dinikmati untuk kehidupan manusia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT, manusia itu disuruh memakmurkan bumi: “Dia (Allah) telah menciptakan dari bumi (tanah) dan menyuruh kamu memakmurkannya”. (Q.S. Hud ayat 61).

Kepercayaan yang diberikan Allah kepada manusia besar sekali sampai-sampai apa saja yang ada di bumi bahkan diluar angkasa boleh dikuasai untuk diambil manfaatnya. Terserah kepada manusia itu sendiri, mampukah memikul amanah itu. Allah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk mennguasai bumi ini, bukanlah untuk bertindak semaunya, bukan hanya untuk mengambil keuntungan pribadi, sementara orang lain dan lingkungan jadi korban.

Selanjutnya kita sebagai manusia harus mampu memakmurkan bumi, dapat mengambil manfaatnya sambil memperhatikan sekeliling kita serta tidak pernah lupa kepada Allah SWT yang telah menganugrahkan karunia yang amat besar itu. Karena semua yang ada dibumi ini hanyalah untuk manusia semata. Allah menjanjikan kepada manusia akan menjadi penguasa bumi dengan syarat harus beriman dan mengerjakan amal shaleh. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-qur’an surat An-nur ayat 55 sebagai berikut. Artinya: “Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shaleh bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa bumi, seabagaimana dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa”. (QS. An-Nur ayat 55)

Keutaman Kebersihan Dalam Islam

Keutaman Kebersihan Dalam Islam – Salah satu dari sekian ajaran islam yang tidak kalah pentingnya adalah tentang kebersihan. Bahkan dalam mata pelajaran Fikih Islam yang pertama dipelajari adalah tentang kebersihan, istilah ini terkenal dengan sebutan Thaharah (bersuci). Adapun kebersihan yang dituntut ajaran islam meliputi kebersihan jasmani dan rohani. Jika seseorang ingin melakukan ibadah misalnya shalat, sudah manjadi keharusan orang tersebut bersih/kotor maka tidak sah shalatnya. Seperti disebutkan dalam hadits yang Artinya:

“Allah tidak menerima Shalat yang tidak dengan bersuci”. (H.R Muslim)
Ilustrasi

Berdasarkan Hadits inilah ulama fiqih menentukan bahwa bersih termasuk syarat sahnya shalat. Adapun kriteria bersih yang menyebabkan dapat diterima atau tidaknya ibadah shalat meliputi bersih dari hadats besar maupun kecil dan bersih dari najis. Seorang ibu tidak akan diterima shalatnya jika dalam keadaan haidh, karena mempunyai hadats besar. Juga seorang bapak tidak akan diterima shalatnya jika sehabis membersihkan saluran air tidak membersihkan anggota badannya yang terkena air kotor tersebut karena dia terkena najis. Untuk lebih jelasnya kita lihat hadits lain yang Artinya:
“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kamu jika berhadats, sehingga lebih dahulu ia berwudhu”. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut, membersihkan diri dari hadats adalah dengan cara berwudhu. Jadi berwudhu merupakan salah satu cara untuk membersihkan hadats yakni hadats kecil. Adapun kebersihan yang berhubungan deengan rohani adalah menjauhkan diri dari pikiran-pikiran yang akan berakibat dosa atau melakukan penyucian diri dari dosa. Allah berfirman yang Artinya:
“sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai menyukai pula orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al-Baqarah ayat 222).

Ayat tersebut disamping menjadi dasar kebersihan yang berhubungan dengan jasmani seperti telah disebutkan di atas tentang haidh juga ada kaitannya dengan kebersihan rohani, yakni bertaubat. Bertaubat inilah yang disebut malakukan penyucian diri (jiwa). Jika seseorang sehabis melakukandosa langsung bertaubat berarti orang tersebut telah melakukan penyucian diri.

Orang-orang yang tergolong rohaninya kotor antara lain: musyrik, kafir, murtad, munafik, fasik, takabur, hasad, riya, bergunjing, ujub dan setiap orang yang ada (baik dalam hati maupun pikirannya) rasa ingin melakukan sesuatu perbuatan yang sekiranya akan menjauhkan diri dari Allah SWT.