Dakwah Rasulullah di Mekkah - Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah Islam dilakukan secara
sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan
keluarga, mula-mula istri beliau sendiri yaitu Khadijah, yang menerima dakwah
beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid, bekas
budak beliau. Disamping itu, juga banyak yang masuk Islam dengan perantaraan
Abu Bakar yang terkenal dengan julukan “Assabiqunal
Awwalun” (orang-orang yang terlebih dahulu masuk Islam), mereka adalah
Utsman bi Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf,
Talhah bin ;Ubaidillah, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam,
yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah (Rumah Arqam).
| Kota Mekkah |
Kemudian setelah turun
ayat 94 Surah Al-Hijr, Nabi Muhammad kemudian mulai berdakwah secara
terang-terangan.
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang
diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”
(QS. Al-Hijr : 94).
Mayoritas pengikut
Muhammad yang bergabung pertama kali
dengannya merupakan orang-orang yang
berasal dari golongan, keluarga atau marga berkecukupan atau terpandang, adik,
anak atau sepupu dari saudagar terkemuka. Di samping itu, mereka juga terdiri
dari orang-orang yang berasal dari marga-marga yang tidak terpandang yang
terdiri dari orang tua, meski tak satupun di antara mereka yang berusia lebih
dari 35 tahun, kecuali Abu Bakar. Sebagian kecil pengikutnya yang lain adalah
mereka yang berasal dari luar makkah, seperti budak dari Etiopia atau
suku-suku pengembara, yang perlindungan marganya secara normal tidak efektif.
Daya tarik agama baru
Muhammad bagi orang-orang tersebut adalah
dakwah untuk maksud tersebut, seseorang harus melihat penekanan di awal
pewahyuan. Alquran tidaklah diturunkan
menurut urutan kronologis, tetapi baik Muslim atau non Muslim melakukan
banyak upaya dalam mencoba menggali berbagai macam surah dan ayat paling tidak
secara tepat. Meski masih ada ketidak sepakatan berkaitan dengan masalah waktu,
terdapat lima hal utama dalam ayat-ayat tersebut diterima secara luas
sebagaimana di era permulaan :
- Kekuasaan dan kebaikan Tuhan sangat banyak. Ayat yang dimaksud dengan hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam (QS. 96:1-8) menjelaskan penciptaan manusia oleh Tuhan dari segumpal darah (embrio) dan dielaborasi oleh ayat yang lain. Selanjutnya kekuasaan penciptaan Tuhan di Alam (QS 88: 17-20). Kebaikan Tuhan ditunjukkan dengan cara memberi makanan kepada makhluk ciptaannya (QS 80: 25-31).
- Akan ada hari pembalasan, saat manusia dibawa menghadap Tuhan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan baik buruk selama mereka hidup di dunia. Kebaikan akan memperoleh ganjaran di Surga sementara kejahatan akanmendapat ganjaran di Neraka.
- Karena Tuhan sangat Perkasa dan Baik, manusia seharusnya menyembah dan mematuhinya. Sejak dari hari pertama, kaum musli melakukan melaksanakan ibadah formal bersama Muhammad termasuk menyentuh tanah dengan lutut dan menempelkan jidat ke tanah dengan maksud mengakui kebesarannya.
- Tuhan juga berharap setiap orang rendah hati dengan kesejahteraan yang mereka terima. Muhammad sendiri diingatkan dalam (Q.S 93 : 9-10) “ Terhadapa anak yatim, jangan sewenang-wenang. Terhadap pengemis jangan menghardik”.
- Terdapat tugas pribadi Muhammad. Ia bertugas membangunkan dan mengingatkan (QS 74: 2), menjadi seorang yang mengingatkan (Q.S 87: 9). Dengan kata lain, fungsi utamanya adalah menyampaikan pesan yang ia terima untuk orang-orang yang menerima pesan dan dipanggil sebagai nabi dan rasul Allah.
Karena Alquran
menyerang sikap-sikap saudagar kaya, perlawanan terhadap agama baru segera
muncul di kalangan mereka. Salah seorang pemimpin di antara mereka adalah Abu
jahl, seorang dari marga Makhzum, seusia dengan Muhammad. Perlawanan tersebut
diekspresika oleh orang-orang kaya dengan mempersulit kehidupan anggota-anggota
marga kecil yang bergabung dengan Muhammad. Solidaritas Marga melindungi
tindakan anggota marga tetap memiliki kekuasaan yang besar.
Kejadian lain yang
muncul sebagai akibat perlawanan
terhadap Muhammad adalah pengungsian kaum Muslim ke Etiopia, yang
diterima oleh kaisar Negus. Kira-kira 70
oarang Muslim diberitakan pergi ke Etiopia dalam dua kelompok, kelompok pertama
berjumlah 10 orang sedangkan kelompok ke dua jumlahnya lebih besar; tetapi tampaknya terdapat sekelompok kecil
orang yang berimigrasi selama beberapa tahun sejak 615. Setelah beberapa saat
ditempatnya yang baru, sebagaian dari imigran ini kembali ke Makkah dan kembali
berimigrasi ke madinah. Sementara imigran yang lain, tetap berada di Etiopia
sampai 628 M saat Nabi Muhammad mengajak mereka bergabung dengannya di Madinah.
Dalam hal ini alasan untuk berimigrasi jelas untuk menghindari hukuman, karena
kebanyakan imigran berasal dari marga yang akan mengalami kesulitan apabila
mereka tetap berada di Makkah. Sementara mereka yang bertahan di makkah
merupakan anggota marga yang tidak akan mengalami perlakuan yang tidak
mengenakkan.
Bagaimana pun, terdapat
kemungkinan alasan kejadian tersebut. Salah satunya adalah keterlibatan dalam perdagangan, sebab orang
Makkah merupakan golongan saudagar, dan
mereka menetap di Etiopia sampai 628 pasti hidup dari perdagangan. Bisa jadi
juga terdapat kemungkinan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan berimigrasi karena
alasan lain yang hanya bias kita perkirakan.
Sejak 615 M Abu Jahl
memerintahkan penentangan terhadap
Muhammad. Ia mencoba membujuk Abu Thalib, pemimpin marga Hasyim, untuk menarik
perlindungan marga yang diberikan kepada Muhammad, Abu Thalib menolak
permintaan tersebut meskipun ia tidak percaya
dengan agama Muhammad. Pada 616 M Abu Jahl menggalang dukungan dari
hamper seluruh marga anggota suku
Quraisyi untuk memboikot marga hasyim. Tindakan tersebut lebih membantu
kaum saudagar kaya daripada membahayakan marga Hasyim, dan setelah dua tahun
mereka mengalami perpecahan. Pada Tahun 619 M Abu Thalib dan istri Muhammad,
Khadijah pendukung terbesarnya meninggal dunia.
Abu Thalib juga mendukung
Muhammad dengan mempertahankan perlindungan marga kepada Nabi Muhammad. Tetapi
saudaranya, Abu Lahab, penerusnya, melakukan tindakan seperti tindakan saudagar
dan reka-rekan bisnisnya dengan orang-orang yang sangat kaya memusuhi Nabi
Muhammad. Di bawah tekanan mereka, ia menarik perlindungan marga terhadap Nabi Muhammad
jika ia tidak menghentikan dakwah dan mengajarkan islam.
Karena di Makkah dakwah
Nabi Muhammad mendapat rintangan dan tekanan, pada akhirnya Nabi memutuskan
untuk berdakwah di luar Makkah. Namun, di Thaif beliau dicaci dan dilempari
batu sampai beliau terluka. Hal ini
semua hamper menyebabkan Nabi Muhammad putus asa, sehingga untuk
menguatkan hati beliau, Allah SWT mengutus dan mengisra’ dan memi’rajkan beliau
pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini
menggemparkan masyarakat Makkah. Bagi orang kafir, peristiwa ini dijadikan
bahan propaganda untuk mendustakan Nabi Muhammad. Sedangkan bagi orang yang
beriman ini merupakan ujian keimanan.
Nabi Muhammad di Ka’bah
juga mendekati empat suku pengembara yang sedang berada di makkah untuk
menghadiri suatu perayaan keagamaan, tetapi usaha ini tidak banyak membawa
hasil. Pada musim ziarah tahunan ke makkah pada Juni 620 M. Enam orang peziarah
dari Madinah menemui Nabi Muhammad dan terkesan dengan kepribadian dan
pesan-pesannya sehingga lima dari enam orang tersebut di tahun berikutnya kembali menemuinya dengan
membawa tujuh orang tambahan. Hasilnya mereka yang berjumlah duabelas sepakat
menerima Muhammad sebagai Nabi dan rasul, tunduk dan menghindari perbuatan
dosa; peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Bai’ah ‘Aqabah pertama.
Untuk menyiapkan jalan
bagi Muhammad dan meyakinkan keadaan bahwa tempat tersebut kondusif bagi diri
dan pengikutnya, Muhammad mengirim
seorang pengikut terpercayanya bersama dengan dua belas orang tersebut
ke Madinah. Orang ini mengajarkan Islam
kepada orang-orang Madinah dan hasilnya sangat sukses dengan tidak kurang dari
75 orang, termasuk dua orang wanita, mengunjungi Makkah untuk melakukan Ziarah
pada Juni 622 M. Mereka bertemu Muhammad secara rahasia diwaktu malam hari, dan
bersumpah tidak hanya menerima Muhammad sebagai nabi, menghindari perbuatan
dosa, tetapi juga berjuang demi Allah dan Utusannya. Inilah Bai’ah Aqabah kedua
atau sumpah perang.
Setelah itu barulah
kaum Muslim Makkah bermigrasi ke Madinah dalam kelompok-kelompo kecil.
Menjelang September 622 M semua orang yang bermaksud imigrasi berangkat
meninggalkan Makkah, terpisah dari Muhammad, Abu Bakar, Ali dan keluarga
mereka. Pada saat itu orang-orang Makkah yang memusuhi Muhammad semakin curiga
dan menyiapkan rencana untuk membunuhnya. Karena keadaan tersebut, Muhammaddan Abu
Bakar melakukan perjalanan rahasia di malam hari, dengan meninggalkan Ali tidur
di ranjang Muhammad. Akhirrnya ia dan Abu Bakar bisa selamat sampai di Madinah
dengan memperoleh sambutan yang hangat. Perpindahan Muhammad dan pengikutnya ke
Madinah dikenal sebagai Hijrah atau imigrasi.

