Sabtu, 17 Januari 2015

Dakwah Rasulullah di Mekkah

Dakwah Rasulullah di Mekkah - Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri yaitu Khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid, bekas budak beliau. Disamping itu, juga banyak yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan julukan “Assabiqunal Awwalun” (orang-orang yang terlebih dahulu masuk Islam), mereka adalah Utsman bi Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Talhah bin ;Ubaidillah, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah (Rumah Arqam).
Kota Mekkah

Kemudian setelah turun ayat 94 Surah Al-Hijr, Nabi Muhammad kemudian mulai berdakwah secara terang-terangan.
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr : 94).

Mayoritas pengikut Muhammad yang bergabung  pertama kali dengannya merupakan  orang-orang yang berasal dari golongan, keluarga atau marga berkecukupan atau terpandang, adik, anak atau sepupu dari saudagar terkemuka. Di samping itu, mereka juga terdiri dari orang-orang yang berasal dari marga-marga yang tidak terpandang yang terdiri dari orang tua, meski tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 35 tahun, kecuali Abu Bakar. Sebagian kecil pengikutnya yang lain adalah mereka  yang berasal dari  luar makkah, seperti budak dari Etiopia atau suku-suku pengembara, yang perlindungan marganya secara normal tidak efektif.

Daya tarik agama baru Muhammad bagi orang-orang tersebut adalah  dakwah untuk maksud tersebut, seseorang harus melihat penekanan di awal pewahyuan. Alquran tidaklah diturunkan  menurut urutan kronologis, tetapi baik Muslim atau non Muslim melakukan banyak upaya dalam mencoba menggali berbagai macam surah dan ayat paling tidak secara tepat. Meski masih ada ketidak sepakatan berkaitan dengan masalah waktu, terdapat lima hal utama dalam ayat-ayat tersebut diterima secara luas sebagaimana di era permulaan :
  1. Kekuasaan dan kebaikan Tuhan sangat banyak. Ayat yang dimaksud dengan hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam  (QS. 96:1-8) menjelaskan penciptaan manusia oleh Tuhan dari segumpal darah (embrio) dan dielaborasi oleh ayat yang lain. Selanjutnya kekuasaan penciptaan Tuhan di Alam (QS 88: 17-20). Kebaikan Tuhan ditunjukkan dengan cara memberi makanan kepada makhluk ciptaannya (QS 80: 25-31). 
  2. Akan ada hari pembalasan, saat manusia dibawa menghadap Tuhan untuk mempertanggungjawabkan  perbuatan baik buruk selama mereka hidup di dunia. Kebaikan akan memperoleh ganjaran di Surga sementara kejahatan akanmendapat ganjaran di Neraka.
  3. Karena Tuhan sangat Perkasa dan Baik, manusia seharusnya menyembah dan mematuhinya. Sejak dari hari pertama, kaum musli melakukan melaksanakan ibadah formal bersama Muhammad termasuk menyentuh tanah dengan lutut dan  menempelkan jidat ke tanah dengan maksud mengakui kebesarannya. 
  4. Tuhan juga berharap setiap orang rendah hati dengan kesejahteraan yang mereka terima. Muhammad sendiri diingatkan dalam (Q.S 93 : 9-10) “ Terhadapa anak yatim, jangan sewenang-wenang. Terhadap pengemis jangan menghardik”.
  5. Terdapat tugas pribadi Muhammad. Ia bertugas membangunkan dan mengingatkan  (QS 74: 2), menjadi seorang yang mengingatkan (Q.S 87: 9). Dengan kata lain, fungsi utamanya adalah menyampaikan pesan yang  ia terima untuk orang-orang yang menerima pesan  dan dipanggil sebagai nabi dan rasul Allah.

Karena Alquran menyerang sikap-sikap saudagar kaya, perlawanan terhadap agama baru segera muncul di kalangan mereka. Salah seorang pemimpin di antara mereka adalah Abu jahl, seorang dari marga Makhzum, seusia dengan Muhammad. Perlawanan tersebut diekspresika  oleh orang-orang kaya  dengan mempersulit kehidupan anggota-anggota marga kecil yang bergabung dengan Muhammad. Solidaritas Marga melindungi tindakan anggota marga tetap memiliki kekuasaan yang besar.

Kejadian lain yang muncul sebagai akibat perlawanan  terhadap Muhammad adalah pengungsian kaum Muslim ke Etiopia, yang diterima oleh kaisar Negus. Kira-kira  70 oarang Muslim diberitakan pergi ke Etiopia dalam dua kelompok, kelompok pertama berjumlah 10 orang sedangkan kelompok ke dua jumlahnya lebih besar;  tetapi tampaknya terdapat sekelompok kecil orang yang berimigrasi selama beberapa tahun sejak 615. Setelah beberapa saat ditempatnya yang baru, sebagaian dari imigran ini kembali ke Makkah dan kembali berimigrasi ke madinah. Sementara imigran yang lain, tetap berada di Etiopia sampai 628 M saat Nabi Muhammad mengajak mereka bergabung dengannya di Madinah. Dalam hal ini alasan untuk berimigrasi jelas untuk menghindari hukuman, karena kebanyakan imigran berasal dari marga yang akan mengalami kesulitan apabila mereka tetap berada di Makkah. Sementara mereka yang bertahan di makkah merupakan anggota marga yang tidak akan mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan.

Bagaimana pun, terdapat kemungkinan alasan kejadian tersebut. Salah satunya adalah  keterlibatan dalam perdagangan, sebab orang Makkah merupakan golongan  saudagar, dan mereka menetap  di Etiopia sampai  628 pasti hidup dari perdagangan. Bisa jadi juga terdapat kemungkinan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan berimigrasi karena alasan lain yang hanya bias kita perkirakan.

Sejak 615 M Abu Jahl memerintahkan  penentangan terhadap Muhammad. Ia mencoba membujuk Abu Thalib, pemimpin marga Hasyim, untuk menarik perlindungan marga yang diberikan kepada Muhammad, Abu Thalib menolak permintaan tersebut meskipun ia tidak percaya  dengan agama Muhammad. Pada 616 M Abu Jahl menggalang dukungan dari hamper seluruh marga anggota suku  Quraisyi untuk memboikot marga hasyim. Tindakan tersebut lebih membantu kaum saudagar kaya daripada membahayakan marga Hasyim, dan setelah dua tahun mereka mengalami perpecahan. Pada Tahun 619 M Abu Thalib dan istri Muhammad, Khadijah pendukung terbesarnya meninggal dunia.

Abu Thalib juga mendukung Muhammad dengan mempertahankan perlindungan marga kepada Nabi Muhammad. Tetapi saudaranya, Abu Lahab, penerusnya, melakukan tindakan seperti tindakan saudagar dan reka-rekan bisnisnya dengan orang-orang yang sangat kaya memusuhi Nabi Muhammad. Di bawah tekanan mereka, ia menarik perlindungan marga terhadap Nabi Muhammad jika ia tidak menghentikan dakwah dan mengajarkan islam.

Karena di Makkah dakwah Nabi Muhammad mendapat rintangan dan tekanan, pada akhirnya Nabi memutuskan untuk berdakwah di luar Makkah. Namun, di Thaif beliau dicaci dan dilempari batu sampai beliau terluka. Hal ini  semua hamper menyebabkan Nabi Muhammad putus asa, sehingga untuk menguatkan hati beliau, Allah SWT mengutus dan mengisra’ dan memi’rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini menggemparkan masyarakat Makkah. Bagi orang kafir, peristiwa ini dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan Nabi Muhammad. Sedangkan bagi orang yang beriman ini merupakan ujian keimanan.

Nabi Muhammad di Ka’bah juga mendekati empat suku pengembara yang sedang berada di makkah untuk menghadiri suatu perayaan keagamaan, tetapi usaha ini tidak banyak membawa hasil. Pada musim ziarah tahunan ke makkah pada Juni 620 M. Enam orang peziarah dari Madinah menemui Nabi Muhammad dan terkesan dengan kepribadian dan pesan-pesannya sehingga lima dari enam orang tersebut  di tahun berikutnya kembali menemuinya dengan membawa tujuh orang tambahan. Hasilnya mereka yang berjumlah duabelas sepakat menerima Muhammad sebagai Nabi dan rasul, tunduk dan menghindari perbuatan dosa; peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Bai’ah ‘Aqabah pertama.

Untuk menyiapkan jalan bagi Muhammad dan meyakinkan keadaan bahwa tempat tersebut kondusif bagi diri dan pengikutnya, Muhammad mengirim  seorang pengikut terpercayanya bersama dengan dua belas orang tersebut ke Madinah.  Orang ini mengajarkan Islam kepada orang-orang Madinah dan hasilnya sangat sukses dengan tidak kurang dari 75 orang, termasuk dua orang wanita, mengunjungi Makkah untuk melakukan Ziarah pada Juni 622 M. Mereka bertemu Muhammad secara rahasia diwaktu malam hari, dan bersumpah tidak hanya menerima Muhammad sebagai nabi, menghindari perbuatan dosa, tetapi juga berjuang demi Allah dan Utusannya. Inilah Bai’ah Aqabah kedua atau sumpah perang.

Setelah itu barulah kaum Muslim Makkah bermigrasi ke Madinah dalam kelompok-kelompo kecil. Menjelang September 622 M semua orang yang bermaksud imigrasi berangkat meninggalkan Makkah, terpisah dari Muhammad, Abu Bakar, Ali dan keluarga mereka. Pada saat itu orang-orang Makkah yang memusuhi Muhammad semakin curiga dan menyiapkan rencana untuk membunuhnya. Karena keadaan tersebut, Muhammaddan Abu Bakar melakukan perjalanan rahasia di malam hari, dengan meninggalkan Ali tidur di ranjang Muhammad. Akhirrnya ia dan Abu Bakar bisa selamat sampai di Madinah dengan memperoleh sambutan yang hangat. Perpindahan Muhammad dan pengikutnya ke Madinah dikenal sebagai Hijrah atau imigrasi.

Keadaan Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam

Keadaan Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam - Suku-suku pengembara Arab mempunyai banyak tuhan. Akan tetapi tuhan-tuhan tersebut tak begitu bermakna bagi mereka. Mereka memegang teguh kepercayaan bahwa kejadian-kejadian yang dialami oleh setiap orang ditentukan oleh kekuatan impersonal yang dikenal sebagai Waktu atau Nasib.
Sebelum datangnya Islam
 
  • Dari Segi Politik
Masyarakat Arab pada masa Jahiliyah tidak memiliki pemerintahan seperti sekarang. Mereka hanya memiliki pimpinan yang mengurus berbagai hal dalam keadaan perang dan damai. Sering terjadi perang antarkaum, antar kabilah, dan antar suku. Bahkan terkadang ada perang yang terjadi sampai puluhan tahun, misalnya :

  1. Perang Busus ; perang ini terjadi antara kabilah Barat dengan kabilah Taghlib selama 40 tahun, hanya di sebabkan perselisihan mengenai seekor unta.  
  2. Perang Dahis ; perang ini terjadi antara pimpinan suku Al-ghubara dan suku Dahis, juga selama 40 tahun, hanya lantaran beberapa perselisihan kecil.  
  3. Perang Fujar ; perang ini terjadi kira-kira 268 tahun sebelum Nabi Muhammad di utus menjadi Rasul.
Perang terjadi antara beberapa kabilah dan suku, terjadi selama bulan Haram, pada masa berlangsungnya “Pasar Ukas”. Masalah perang hanya di sebabkan masalah kecil, yaitu mengenai seekor unta yamg di sembelih.

  • Dari Segi Keadaan Ekonomi dan Sosial
Sesuai dengan tanah Arab yang sebagian besar terdiri dari padang Sahara, ekonomi mereka yang terpenting yaitu perdagangan. Masyarakat Quraisy berdagang sepanjang tahun. Di musim dingin mereka mengirim kafilah dagang ke Yaman, sedangkan di musim panas khafilah dagang mereka menuju ke Syiriah. Perdagangan yang paling ramai di kota Mekah yaitu selam musim “Pasar Ukaz”, yaitu pada bulan zulkaidah, zulhijjah, dan muharram. Adapun keadaan sosial mereka, terdapat beberapa segi yang baik dan adapula yang buruk. Segi yang baik, misalnya setia kepada kawan dan setia kepada janji, menhormati tamu, tolong menolong antara anggota-anggota kabilah. Segi-segi yang buruk, misalnya merendahkan derjat wanita, suka bermusuhan lantaran masalah sepele.

  • Dari Segi Kehidupan Intelektual
Sekalipun jazirah Arabia, terutama Hijaz dan Najd, terpencil dari dunia luar, namun mereka memiliki daya intelektual yang sangat cerdas. Bukti dari kecerdasan mereka dapat di lihat pada berbagai peninggalan mereka, baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Bukti kecerdasan akal mereka dalam ilmu pengetahuan dan seni bahasa, dapat di kemukakan sebagai berikut :

  1. Ilmu Astronomi. Bangsa Kaidan (Babilon) adalah guru dunia bagi ilmu astronomi. Mereka telah menciptakan ilmu astronomi dan membina asas-asasnya pada waktu tentara persia menyerbu negeri Babilon, sebagain besar dari mereka termasuk ahli ilmu astronomi mengungsi ke negeri-negeri arab. Dari merekalah orang Arab mempelajari ilmu astronomi. 
  2. Ilmu meteorologi. Mereka menguasai ilmu cuaca atau ilmu iklim (Meteorologi)myang dalam istilah mereka waktu itu di sebut Al-anwa wa mahabburriyah atau istilah bahasa Arab modern di sebut Adh-dhawahirul jauwiya. 
  3. Ilmu Mitologi. Ini semacam ilmu mengetahui beberapa kemungkinan terjadinya peristiwa (seperti perang, damai, dsb ), yang di dasarkan pada bintang-bintang. Seperti halnya orang-orang Arab purba, maka merekapun menuhankan bintang-bintang, matahari, dan bulan. Atas pemberitahuan dari tuhannya maka mereka mengetahui sesuatu. 
  4. Ilmu Tenun. Ilmu tenun juga berkembang pada mereka dan ilmu ini di bawa oleh bangsa Kaldan (Babilon) ke tanah Arab. Kemudian ilmu tenun berkembang sangat luas dalam kalangan mereka. 
  5. Ilmu Thib (Kedokteran). Ilmu Thib ini berasala dari bangsa Kaldan (Babilon). Mereka mengadakan percobaan penyembuhan orang-orang sakit, yaitu dengan menempatkan orang sakit di tepi jalan, kemudian mereka menanyakan kepada siapapun yang melalui jalan tersebut mengetahui obatnya, lalu di catat. Dngan percobaan terus menerus akhirnya mereka mendapat ilmu pengobatan bagi orang sakit. Pada awalnya pengobatan di lakukan oleh para tukang tenun, kemudian dukung (tabib) hingga akhirnya berkembang. Ilmu kedokteran dari bangsa Babilon di ambil dari bangsa lain, termasuk oleh orang Arab, sehingga ilmu tersebut menjadi berkembang di kalangan bangsa Arab.
  • Dari Segi Bahasa dan Seni Bahasa
Dalam bidang bahasa dan seni bahasa, bangsa Arab sebelum Islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka seorang penyair sangat di hormati. Setiap tahun di “Pasar Ukaz” di adakan deklamasi sajak yang sangat luas.
Ada juga beberapa petunjuk philologys mengenai bahasa Arab yang menjelaskan bahwa walupun bahasa semi adalah bahasa yang paling akhir dalam pemunculannya sebagai instrument literature dan kebudayaan, namun dalam banyak cara pemakaian, struktur gramatikanya adalah paling tua dan konsekuensinya adalah bahwa bahasa itu adalah paling dekat dengan bahasa proto semitik yang asli.
Pemunculan pertama kali dalam sejarah adalah dalam peritilahan linguistic dan kebudayaan. Bahasa Arab di sebelah selatan berbeda dengan bahasa Arab klasik. Bahasa itu ditulis dalam alphabet yang berbeda, yang kita ketahui dalam inskripsi-inskripsi, dan yang dihubung-hubungkan orang dengan bahasa Etiopia yang benar-benar telah berkembang di Abessinia oleh kolonis-kolonis dari Arab Selatan yang berhasil membangun sentral peradaban yang pertama di Etiopia. Perbedaan penting lainnya adalah bahwa pnduduk Arab selatan, umumnya bangsa penetap.
Dalam bidang bahasa dan seni bahasa kebudayaan mereka sangat maju.

  1. Khithabah (Retorika) sangat maju, inilah satu-satunya alat komunikasi yang sangat luas medannya. Di samping sebagai penyair, bangsa Arab Jahiliahpun sangat fasih berpidato dengan bahasa yang indah dan bersemangat. Ahli pidato mendapat derajat tinggi dalam masyarakat, sama halnya dengan penyair. 
  2. Majlis Al-adab dan Sauqu Ukaz, Telah menjadi kebiasaan masyarakat Arab Jahiliah, yaitu mengadakan majlis atau nadwa (klub), di tempat ini mereka mendeklamasikan sajak, bertanding pidato, bertukar menukar berita dan sebagainya. Terkenallah dalam kalangan mereka “Nadi Quraisy” dan Darun Nadwa yang berdiri di samping Ka’bah.
Di samping itu, mereka mengadakan aswaq (pekan) pada waktu tertentu, di beberapa tempat dalam negeri Arab. Tiap-tiap ada Sauq berkumpullah para saudagar dengan barang dagangannya, penyair dengan sajak-sajaknya, ahli pidato dengan khutbah-khutbahnya, dan sebagainya. Adapun yang sangat terkenal di antara aswak mereka yaitu Sauqu Ukas atau “Pekan Ukas” yang di adakan pada suatu tempat tidak jauh dari kota Mekah menuju ke Thaif.

  • Dari Segi Kepercayaan yang di Anut Bangsa Arab
Kepercayaan terdalam mereka dikenal sebagai humanisme kesukuan dan dikuatkan dengan tradisi syair. Penyair-penyair mengungkapkan keberanian kepahlawanan individu yang dimaksudkan untuk menunjukkan kualitas-kualitas yang ada dalam suku dibandingkan untuk menganggambarkan sosok individu, dan kebanyakan orang Arab merasa hal ini menjadikan hidupnya lebih bermakna. Selain itu terdapa kode etik yang dikaitkan dengan system kesukuan. Sebuah suku atau marga secara keseluruhan memiliki tanggung jawab untuk melindungi angota-anggotanya, dan prinsip nyawa dibayar nyaa merupakan sesuatu yang biasa.Prinsip ini kerap menimbulkan persoalan serius dan pertumpahan darah berkepanjangan.Inilah masalah yang dihadapi Muhammad. Di samping itu terdapat harapan bahwa pemuka suku memilikikepedulian terhadap anggota sukunya yang lebih lemah.

Kerajaan Bangsa Arab Sebelum Islam

Kerajaan Bangsa Arab Sebelum Islam - Sebelum Islam, di negeri-negeri Jazirah Arabia, telah berdiri beberapa kerajaan, yang sifat dan bentuknya ada dua macam, yaitu sebagai berikut :
  1. Kerajaan yang berdaulat, tetapi tunduk kepada kerajaan lain (mendapat otonomi dalam negeri). 
  2. Kerajaan tidak berdaulat, tetapi mempunyai kemerdekaan penuh, ini lebih tepat di sebut induk suku dengan kepala sukunya. Ia memiliki apa yang di miliki oleh kerajaan-kerajaan yang sebenarnya.
Ilustrasi
Menurut A. Hasjmy, ada beberapa kerajaan arabia yang berdaulat, di antaranya sebagai berikut :
  1. Kerajaan Makyan, kerajaan ini terletak di Selatan Arabia, yaitu di daerah Yaman. 
  2. Kerajaan Saba, Kerajaan ini juga berdiri di daerah tanah Yaman, yang pada waktu kerajaan Saba ini menggantikan kerajaan Makyan. Kerajaan Saba sangat maju dan terkenal dalam sejarah, terutama terkenal dengan bendungan raksasanya “Saddul Maarib”, sebagai bendungan raksasa pertama di dunia kerajaan Saba ini di abadikan dalam Al-Quran.
  3. Kerajaan Himyar, kerajaan ini terletak, kerajaan ini terletak antara saba dan laut merah,yang meliputi daerah-daerah yang bernama Qitbah sehingga kerajaan ini kadang-kadang dinamakan juga dengan kerajaan qitban. Daerah-daerah Yaman, dimana tempat berdirinya tiga kerajaan tersebut diatas, kemudian dijajah oleh kerajaan-kerajaan Habsyah (kerajaan Habsyah dibawah naungan kerajaan Romawi Timur), kemudian dijajah lagi oleh kerajaan persiah di mana seluruh orang Habsyah dibunuh habis.  
  4. Kerajaan Hirah, beberapa kabilah Arab yang tinggal dekat dengan perbatasan kerajaan Romawi dan Persiah mengenyam kemerdekaanya yang penuh. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan dan mereka menganut politik bersahabat dengan kerajaan besar tetangganya (Persia dan Romawi), di antara kerajaan kabilah itu, yaitu kerajaan Hirah. Kerajaan Hirah ini sangat dekat hubungannya dengan kerajaan persia, sehinnga akhirnya menjadi “Wilayah” dari kerajaan Persia. Hirah terletak di daerah Irak sekarang. 
  5. Kerajaan Ghasan, kerajaan ini terletak di daerah Syam sekarang. Kerajaan ini sangat rapat hubungannya dengan kerajaan Romawi Timur, sehingga satu waktu menjadi wilayah dari kerajaan Romawi. 
  6. Negeri Hijaz, Hijaz mempertahankan kemerdekaannya sejak lama, juga kerajaan Romawi dan Persia tidak dapat menjajah Hijaz. Penduduk Arab mempunyai satu agama, sedangkan aqidah mereka bermacam-macam, yang menjadi pusatnya adalah Mekah.
  7. Mekah, kota tempat berdirinya Ka’bah. Di sekeliling Ka’bah di dirikan berbagai patung berhala untuk di sembah sebagai tuhan orang-orang Arab. Pada mulanya Mekah dan Ka’bah di kuasai oleh nabi Ismail, kemudian putra sulungnya, Nabit, kemudian untuk penguasa-penguasa dari kabilah Jurham. Kemudian kabilah Jurhan di ganti oleh kabilah Khuza’ahyang datang dari Yaman setelah runtuhnya Mendungan Maarib, yang dapat berkuasa selama kurang lebih 300 tahun. Pada masa itu mereka banyak berbuat kesalahan, terutam menimbulkan paham yang salah terhadap agama.

Sabtu, 03 Januari 2015

Pengertian Hadis



Pengertian Hadis - Secara bahasa, kata hadis (al-hadits) berarti baru yaitu (sesuatu yang baru), bentuk jamak hadis dengan makna ini hidats, hudatsa dan huduts, dan lawan katanya qadim (sesuatu yang lama). Disamping berarti baru juga mengandung arti yang dekat, sesuatu yang dekat yang belum lama terjadi, dan juga berarti berita yang sama dengan hiddits yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang pada orang lain. 

Ilustrasi

Dikalangan ulama hadis, hadis merupakan sinonim sunnah, namun hadis pada umumnya digunakan untuk istilah segala sesuatu yang diriwayatkan dari rasulullah setelah ditus jadi Nabi (bi’tsah). Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis hanya terbatas ucapan dan perbuatan Nabi saaja, sedang persetujuan dan sifat-sifatnya tidak termasuk hadis karena keduanya merupakan ucapan dan perbuatan sahabat. Berbeda dengan ulama hadis, ulama Ushul Fiqh berpendapat bahwa hadits lebih khusus dari pada sunnah sebab hadis, menurut mereka, adalah sunnah qawiyyah.

Selain itu hadis juga digunakan untuk sesuatu yang disandarkan kepada Allah yang dikenal denagn hadits qudsi yaitu hadis yang disandarkan oleh Nabi kepada Allah. Disebut hadis karena berasal dari rasulullah dan dikatakan qudsi sebab disandarkan kepada Allah. Disebut hadis karena berasal dari rasulullah dan dikatakan qudsi sebab disandarkan kepada Allah.

Disamping sunnah dan hadis juga dikenal kata khabar dan atsar untuk maksud yang sama. Dari segi bahasa, khabir berarti sesuatu yang dikutip atau dibicarakan, sedang menurut terminology  jumhur ahli hadis, kahabar merupakan sinonim hadis yaitu segala yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuagtan maupun ketetapan. Khabar dan hadis juga meliputi segala yang berasal dari sahabat atau tabi’in. menurut pendapat ini khabar dan hadis menncakup hadis marfu’,mawquf, dan maqthu. Sebagian mereka berpendapat bahwa hadis khusus untuk sesuatu yang berasal dari Nabi sedan khabar untuk sesuatu yang berasal dari selain Nabi, adapula yang berpendapat bahwa haddis mencakup khabar, tidak sebaliknya. Jadi menurut pendapat terakhir ini, hadis lebih luas maknanya dari pada khabar . khabar  yang marfu dan mawquf menurut ahli hadis disebut atsar. Menurut ahli fiqh Khurasan, hadis yang marfu’ disebut khabar  dan hadis yang mawquf disebut atsar.