Keadaan Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam - Suku-suku
pengembara Arab mempunyai banyak tuhan. Akan tetapi
tuhan-tuhan tersebut tak begitu bermakna bagi mereka. Mereka memegang teguh kepercayaan bahwa kejadian-kejadian yang dialami oleh
setiap orang ditentukan oleh kekuatan impersonal yang dikenal sebagai Waktu
atau Nasib.
![]() |
| Sebelum datangnya Islam |
- Dari Segi Politik
Masyarakat Arab pada masa Jahiliyah tidak memiliki
pemerintahan seperti sekarang. Mereka hanya memiliki pimpinan yang mengurus
berbagai hal dalam keadaan perang dan damai. Sering terjadi perang antarkaum,
antar kabilah, dan antar suku. Bahkan terkadang ada perang yang terjadi sampai
puluhan tahun, misalnya :
- Perang Busus ; perang ini terjadi antara kabilah Barat dengan kabilah Taghlib selama 40 tahun, hanya di sebabkan perselisihan mengenai seekor unta.
- Perang Dahis ; perang ini terjadi antara pimpinan suku Al-ghubara dan suku Dahis, juga selama 40 tahun, hanya lantaran beberapa perselisihan kecil.
- Perang Fujar ; perang ini terjadi kira-kira 268 tahun sebelum Nabi Muhammad di utus menjadi Rasul.
Perang terjadi antara beberapa kabilah dan suku,
terjadi selama bulan Haram, pada masa berlangsungnya “Pasar Ukas”. Masalah
perang hanya di sebabkan masalah kecil, yaitu mengenai seekor unta yamg di
sembelih.
- Dari Segi Keadaan Ekonomi dan Sosial
Sesuai dengan
tanah Arab yang sebagian besar terdiri dari padang Sahara, ekonomi mereka yang
terpenting yaitu perdagangan. Masyarakat Quraisy berdagang sepanjang tahun. Di
musim dingin mereka mengirim kafilah dagang ke Yaman, sedangkan di musim panas
khafilah dagang mereka menuju ke Syiriah. Perdagangan yang paling ramai di kota
Mekah yaitu selam musim “Pasar Ukaz”, yaitu pada bulan zulkaidah, zulhijjah,
dan muharram. Adapun keadaan sosial mereka, terdapat beberapa segi yang baik
dan adapula yang buruk. Segi yang baik, misalnya setia kepada kawan dan setia
kepada janji, menhormati tamu, tolong menolong antara anggota-anggota kabilah.
Segi-segi yang buruk, misalnya merendahkan derjat wanita, suka bermusuhan
lantaran masalah sepele.
- Dari Segi Kehidupan Intelektual
Sekalipun jazirah Arabia, terutama Hijaz dan Najd,
terpencil dari dunia luar, namun mereka memiliki daya intelektual yang sangat
cerdas. Bukti dari kecerdasan mereka dapat di lihat pada berbagai peninggalan
mereka, baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Bukti kecerdasan akal
mereka dalam ilmu pengetahuan dan seni bahasa, dapat di kemukakan sebagai
berikut :
- Ilmu Astronomi. Bangsa Kaidan (Babilon) adalah guru dunia bagi ilmu astronomi. Mereka telah menciptakan ilmu astronomi dan membina asas-asasnya pada waktu tentara persia menyerbu negeri Babilon, sebagain besar dari mereka termasuk ahli ilmu astronomi mengungsi ke negeri-negeri arab. Dari merekalah orang Arab mempelajari ilmu astronomi.
- Ilmu meteorologi. Mereka menguasai ilmu cuaca atau ilmu iklim (Meteorologi)myang dalam istilah mereka waktu itu di sebut Al-anwa wa mahabburriyah atau istilah bahasa Arab modern di sebut Adh-dhawahirul jauwiya.
- Ilmu Mitologi. Ini semacam ilmu mengetahui beberapa kemungkinan terjadinya peristiwa (seperti perang, damai, dsb ), yang di dasarkan pada bintang-bintang. Seperti halnya orang-orang Arab purba, maka merekapun menuhankan bintang-bintang, matahari, dan bulan. Atas pemberitahuan dari tuhannya maka mereka mengetahui sesuatu.
- Ilmu Tenun. Ilmu tenun juga berkembang pada mereka dan ilmu ini di bawa oleh bangsa Kaldan (Babilon) ke tanah Arab. Kemudian ilmu tenun berkembang sangat luas dalam kalangan mereka.
- Ilmu Thib (Kedokteran). Ilmu Thib ini berasala dari bangsa Kaldan (Babilon). Mereka mengadakan percobaan penyembuhan orang-orang sakit, yaitu dengan menempatkan orang sakit di tepi jalan, kemudian mereka menanyakan kepada siapapun yang melalui jalan tersebut mengetahui obatnya, lalu di catat. Dngan percobaan terus menerus akhirnya mereka mendapat ilmu pengobatan bagi orang sakit. Pada awalnya pengobatan di lakukan oleh para tukang tenun, kemudian dukung (tabib) hingga akhirnya berkembang. Ilmu kedokteran dari bangsa Babilon di ambil dari bangsa lain, termasuk oleh orang Arab, sehingga ilmu tersebut menjadi berkembang di kalangan bangsa Arab.
- Dari Segi Bahasa dan Seni Bahasa
Dalam bidang bahasa dan seni bahasa,
bangsa Arab sebelum Islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya.
Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka seorang penyair
sangat di hormati. Setiap tahun di “Pasar Ukaz” di adakan deklamasi sajak yang
sangat luas.
Ada juga beberapa petunjuk
philologys mengenai bahasa Arab yang menjelaskan bahwa walupun bahasa semi
adalah bahasa yang paling akhir dalam pemunculannya sebagai instrument
literature dan kebudayaan, namun dalam banyak cara pemakaian, struktur gramatikanya
adalah paling tua dan konsekuensinya adalah bahwa bahasa itu adalah paling
dekat dengan bahasa proto semitik yang asli.
Pemunculan pertama kali
dalam sejarah adalah dalam peritilahan linguistic dan kebudayaan.
Bahasa Arab di sebelah selatan berbeda dengan bahasa
Arab klasik. Bahasa itu ditulis dalam alphabet yang berbeda, yang kita ketahui
dalam inskripsi-inskripsi, dan yang dihubung-hubungkan orang dengan bahasa
Etiopia yang benar-benar telah berkembang di Abessinia oleh kolonis-kolonis
dari Arab Selatan yang berhasil membangun sentral peradaban yang pertama di
Etiopia. Perbedaan penting lainnya adalah bahwa pnduduk Arab selatan, umumnya
bangsa penetap.
Dalam bidang
bahasa dan seni bahasa kebudayaan mereka sangat maju.
- Khithabah (Retorika) sangat maju, inilah satu-satunya alat komunikasi yang sangat luas medannya. Di samping sebagai penyair, bangsa Arab Jahiliahpun sangat fasih berpidato dengan bahasa yang indah dan bersemangat. Ahli pidato mendapat derajat tinggi dalam masyarakat, sama halnya dengan penyair.
- Majlis Al-adab dan Sauqu Ukaz, Telah menjadi kebiasaan masyarakat Arab Jahiliah, yaitu mengadakan majlis atau nadwa (klub), di tempat ini mereka mendeklamasikan sajak, bertanding pidato, bertukar menukar berita dan sebagainya. Terkenallah dalam kalangan mereka “Nadi Quraisy” dan Darun Nadwa yang berdiri di samping Ka’bah.
Di samping itu, mereka mengadakan aswaq (pekan) pada
waktu tertentu, di beberapa tempat dalam negeri Arab. Tiap-tiap ada Sauq
berkumpullah para saudagar dengan barang dagangannya, penyair dengan
sajak-sajaknya, ahli pidato dengan khutbah-khutbahnya, dan sebagainya. Adapun
yang sangat terkenal di antara aswak mereka yaitu Sauqu Ukas atau “Pekan Ukas”
yang di adakan pada suatu tempat tidak jauh dari kota Mekah menuju ke Thaif.
- Dari Segi Kepercayaan yang di Anut Bangsa Arab
Kepercayaan
terdalam mereka dikenal sebagai humanisme kesukuan dan dikuatkan dengan tradisi syair.
Penyair-penyair mengungkapkan keberanian kepahlawanan
individu yang dimaksudkan untuk menunjukkan kualitas-kualitas yang ada dalam
suku dibandingkan untuk menganggambarkan sosok individu, dan kebanyakan orang
Arab merasa hal ini menjadikan hidupnya lebih bermakna.
Selain itu terdapa kode etik yang dikaitkan dengan
system kesukuan. Sebuah
suku atau marga secara keseluruhan memiliki tanggung jawab untuk melindungi
angota-anggotanya, dan prinsip nyawa dibayar nyaa merupakan sesuatu yang
biasa.Prinsip ini kerap menimbulkan persoalan serius dan pertumpahan darah
berkepanjangan.Inilah masalah yang dihadapi Muhammad. Di samping itu terdapat
harapan bahwa pemuka suku memilikikepedulian terhadap anggota sukunya yang
lebih lemah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar