Kamis, 01 Januari 2015

Islam sebagai sumber pengetahuan

Islam sebagai sumber pengetahuan-Agama pada umumnya mempunyai ajaran-ajaran yang diyaakini turun kepada masyarakat manusia melalui wahyu, adalam arti bahwa ajaran-ajaran itu berasal dari Tuahan Yang Maha Mengetahui dan oleh karena itu bersifat benar, adan tidak akan berubah-ubah sekalipun masyarakat manusia berubah menurrut perkembangan zaman. Ajaran-ajaran agama bersifat absolut, tidak akan berubah dan tidak akan dapat diubah menurut peredaran masa, ia merupaakan dogma. Inilah yang menimbulkan sikap dogmatis dalam tiap agama.

Kaligrafi Allah http://cookies.web.id/2013/03/dp-bbm-tulisan-allah ...
Ilustrasi

Ilmu pengetahuan sebaliknya tidak kenal dan tidak terikat pada waktu. Ilmu pengetahuan berpijak dan terikat pada pemikiran rasional. Itulah sebabnya secara popular orang mengatakan bahwa agama bermula dari percaya, sedang ilmu bermula dari tidak percaya. Akan tetapi meskipun titik berangkatnya berbeda, tidaklah berarti antara agama dan ilmu itu dala posisi yang bertentangan. Kalau agama mempunyai nilai kebenaaran mutlak maka ilmu yang sifat kebenarannya relative adalah merupakan alat bagi manusaia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran itu. Dengan menggunakan kekuatan daya pikir dan dengan dibimbing hati nuraninya, manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya secara baik yaitu beramal saleh. Atau dengan kata lain bahwa ilmu pengetahuan adalah persyaratan amal saleh, yaitu amal yang dituntut oleh ajaran agama terhadap pemeluknya.

Sejalan dengan itulah islam memandang kegunaan dan peranan ilmu, sehingga tidak membuat garis pemisah antara agam dan ilmu. Agama adalah nilai-nilai panutan yang memberi pedoman pada tingkah laku manusia dan pandangan hidupnya; ilmu adalah sesuatu hasil  yang dicapai oleh manusia berkat bekal kemampuan-kemampuannyasebagai anugrah dari Tuhan Maha Pencipta. Ilmu tidak dibekalkan sebagai barang jadi, ilmu harus dicari, dan untuk ikhtiar mencari ilmu ini Tuhan membekali manusia dengan berbagai kemampuan yang memang kodratnya sesuai dengan keinginan untuk mengetahui apa saja.

Manunggalnya agama dan ilmu pengetahuan itu menjadikan manusia – betapapun tinggi tingkat ilmunya – makhluk social yang etis selalu bertanggung jawab. Sebab akal semata-mata tidak selalu membimbing kejalan yang benar salah satu ciri akar adalah juga kemungkinannya untuk menyesatkan dan bahkan meimbulkan kerumirtan bagi manusia sendiri. Diterangi oleh nilai-nilai agama, maka proses akal tidak akan terbiarkan menyusuri garis-garis yang menyesatkan. Tidak terpisahnya agama dan ilmu berarti pula berpadunya kata hati dan pengetahuan, satunya “conscience” dan “science”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar