Islam sebagai sumber pengetahuan-Agama pada umumnya mempunyai ajaran-ajaran yang diyaakini
turun kepada masyarakat manusia melalui wahyu, adalam arti bahwa ajaran-ajaran
itu berasal dari Tuahan Yang Maha Mengetahui dan oleh karena itu bersifat
benar, adan tidak akan berubah-ubah sekalipun masyarakat manusia berubah
menurrut perkembangan zaman. Ajaran-ajaran agama bersifat absolut, tidak akan
berubah dan tidak akan dapat diubah menurut peredaran masa, ia merupaakan
dogma. Inilah yang menimbulkan sikap dogmatis dalam tiap agama.
| Ilustrasi |
Ilmu pengetahuan sebaliknya tidak kenal dan tidak terikat
pada waktu. Ilmu pengetahuan berpijak dan terikat pada pemikiran rasional.
Itulah sebabnya secara popular orang mengatakan bahwa agama bermula dari
percaya, sedang ilmu bermula dari tidak percaya. Akan tetapi meskipun titik
berangkatnya berbeda, tidaklah berarti antara agama dan ilmu itu dala posisi
yang bertentangan. Kalau agama mempunyai nilai kebenaaran mutlak maka ilmu yang
sifat kebenarannya relative adalah merupakan alat bagi manusaia untuk mencari
dan menemukan kebenaran-kebenaran itu. Dengan menggunakan kekuatan daya pikir
dan dengan dibimbing hati nuraninya, manusia dapat menemukan
kebenaran-kebenaran dalam hidupnya secara baik yaitu beramal saleh. Atau dengan
kata lain bahwa ilmu pengetahuan adalah persyaratan amal saleh, yaitu amal yang
dituntut oleh ajaran agama terhadap pemeluknya.
Sejalan dengan itulah islam memandang kegunaan dan peranan
ilmu, sehingga tidak membuat garis pemisah antara agam dan ilmu. Agama adalah
nilai-nilai panutan yang memberi pedoman pada tingkah laku manusia dan
pandangan hidupnya; ilmu adalah sesuatu hasil
yang dicapai oleh manusia berkat bekal kemampuan-kemampuannyasebagai
anugrah dari Tuhan Maha Pencipta. Ilmu tidak dibekalkan sebagai barang jadi,
ilmu harus dicari, dan untuk ikhtiar mencari ilmu ini Tuhan membekali manusia
dengan berbagai kemampuan yang memang kodratnya sesuai dengan keinginan untuk
mengetahui apa saja.
Manunggalnya agama dan ilmu pengetahuan itu menjadikan
manusia – betapapun tinggi tingkat ilmunya – makhluk social yang etis selalu
bertanggung jawab. Sebab akal semata-mata tidak selalu membimbing kejalan yang
benar salah satu ciri akar adalah juga kemungkinannya untuk menyesatkan dan
bahkan meimbulkan kerumirtan bagi manusia sendiri. Diterangi oleh nilai-nilai
agama, maka proses akal tidak akan terbiarkan menyusuri garis-garis yang
menyesatkan. Tidak terpisahnya agama dan ilmu berarti pula berpadunya kata hati
dan pengetahuan, satunya “conscience” dan “science”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar