Sabtu, 17 Januari 2015

Dakwah Rasulullah di Mekkah

Dakwah Rasulullah di Mekkah - Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri yaitu Khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid, bekas budak beliau. Disamping itu, juga banyak yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan julukan “Assabiqunal Awwalun” (orang-orang yang terlebih dahulu masuk Islam), mereka adalah Utsman bi Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Talhah bin ;Ubaidillah, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah (Rumah Arqam).
Kota Mekkah

Kemudian setelah turun ayat 94 Surah Al-Hijr, Nabi Muhammad kemudian mulai berdakwah secara terang-terangan.
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr : 94).

Mayoritas pengikut Muhammad yang bergabung  pertama kali dengannya merupakan  orang-orang yang berasal dari golongan, keluarga atau marga berkecukupan atau terpandang, adik, anak atau sepupu dari saudagar terkemuka. Di samping itu, mereka juga terdiri dari orang-orang yang berasal dari marga-marga yang tidak terpandang yang terdiri dari orang tua, meski tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 35 tahun, kecuali Abu Bakar. Sebagian kecil pengikutnya yang lain adalah mereka  yang berasal dari  luar makkah, seperti budak dari Etiopia atau suku-suku pengembara, yang perlindungan marganya secara normal tidak efektif.

Daya tarik agama baru Muhammad bagi orang-orang tersebut adalah  dakwah untuk maksud tersebut, seseorang harus melihat penekanan di awal pewahyuan. Alquran tidaklah diturunkan  menurut urutan kronologis, tetapi baik Muslim atau non Muslim melakukan banyak upaya dalam mencoba menggali berbagai macam surah dan ayat paling tidak secara tepat. Meski masih ada ketidak sepakatan berkaitan dengan masalah waktu, terdapat lima hal utama dalam ayat-ayat tersebut diterima secara luas sebagaimana di era permulaan :
  1. Kekuasaan dan kebaikan Tuhan sangat banyak. Ayat yang dimaksud dengan hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam  (QS. 96:1-8) menjelaskan penciptaan manusia oleh Tuhan dari segumpal darah (embrio) dan dielaborasi oleh ayat yang lain. Selanjutnya kekuasaan penciptaan Tuhan di Alam (QS 88: 17-20). Kebaikan Tuhan ditunjukkan dengan cara memberi makanan kepada makhluk ciptaannya (QS 80: 25-31). 
  2. Akan ada hari pembalasan, saat manusia dibawa menghadap Tuhan untuk mempertanggungjawabkan  perbuatan baik buruk selama mereka hidup di dunia. Kebaikan akan memperoleh ganjaran di Surga sementara kejahatan akanmendapat ganjaran di Neraka.
  3. Karena Tuhan sangat Perkasa dan Baik, manusia seharusnya menyembah dan mematuhinya. Sejak dari hari pertama, kaum musli melakukan melaksanakan ibadah formal bersama Muhammad termasuk menyentuh tanah dengan lutut dan  menempelkan jidat ke tanah dengan maksud mengakui kebesarannya. 
  4. Tuhan juga berharap setiap orang rendah hati dengan kesejahteraan yang mereka terima. Muhammad sendiri diingatkan dalam (Q.S 93 : 9-10) “ Terhadapa anak yatim, jangan sewenang-wenang. Terhadap pengemis jangan menghardik”.
  5. Terdapat tugas pribadi Muhammad. Ia bertugas membangunkan dan mengingatkan  (QS 74: 2), menjadi seorang yang mengingatkan (Q.S 87: 9). Dengan kata lain, fungsi utamanya adalah menyampaikan pesan yang  ia terima untuk orang-orang yang menerima pesan  dan dipanggil sebagai nabi dan rasul Allah.

Karena Alquran menyerang sikap-sikap saudagar kaya, perlawanan terhadap agama baru segera muncul di kalangan mereka. Salah seorang pemimpin di antara mereka adalah Abu jahl, seorang dari marga Makhzum, seusia dengan Muhammad. Perlawanan tersebut diekspresika  oleh orang-orang kaya  dengan mempersulit kehidupan anggota-anggota marga kecil yang bergabung dengan Muhammad. Solidaritas Marga melindungi tindakan anggota marga tetap memiliki kekuasaan yang besar.

Kejadian lain yang muncul sebagai akibat perlawanan  terhadap Muhammad adalah pengungsian kaum Muslim ke Etiopia, yang diterima oleh kaisar Negus. Kira-kira  70 oarang Muslim diberitakan pergi ke Etiopia dalam dua kelompok, kelompok pertama berjumlah 10 orang sedangkan kelompok ke dua jumlahnya lebih besar;  tetapi tampaknya terdapat sekelompok kecil orang yang berimigrasi selama beberapa tahun sejak 615. Setelah beberapa saat ditempatnya yang baru, sebagaian dari imigran ini kembali ke Makkah dan kembali berimigrasi ke madinah. Sementara imigran yang lain, tetap berada di Etiopia sampai 628 M saat Nabi Muhammad mengajak mereka bergabung dengannya di Madinah. Dalam hal ini alasan untuk berimigrasi jelas untuk menghindari hukuman, karena kebanyakan imigran berasal dari marga yang akan mengalami kesulitan apabila mereka tetap berada di Makkah. Sementara mereka yang bertahan di makkah merupakan anggota marga yang tidak akan mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan.

Bagaimana pun, terdapat kemungkinan alasan kejadian tersebut. Salah satunya adalah  keterlibatan dalam perdagangan, sebab orang Makkah merupakan golongan  saudagar, dan mereka menetap  di Etiopia sampai  628 pasti hidup dari perdagangan. Bisa jadi juga terdapat kemungkinan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan berimigrasi karena alasan lain yang hanya bias kita perkirakan.

Sejak 615 M Abu Jahl memerintahkan  penentangan terhadap Muhammad. Ia mencoba membujuk Abu Thalib, pemimpin marga Hasyim, untuk menarik perlindungan marga yang diberikan kepada Muhammad, Abu Thalib menolak permintaan tersebut meskipun ia tidak percaya  dengan agama Muhammad. Pada 616 M Abu Jahl menggalang dukungan dari hamper seluruh marga anggota suku  Quraisyi untuk memboikot marga hasyim. Tindakan tersebut lebih membantu kaum saudagar kaya daripada membahayakan marga Hasyim, dan setelah dua tahun mereka mengalami perpecahan. Pada Tahun 619 M Abu Thalib dan istri Muhammad, Khadijah pendukung terbesarnya meninggal dunia.

Abu Thalib juga mendukung Muhammad dengan mempertahankan perlindungan marga kepada Nabi Muhammad. Tetapi saudaranya, Abu Lahab, penerusnya, melakukan tindakan seperti tindakan saudagar dan reka-rekan bisnisnya dengan orang-orang yang sangat kaya memusuhi Nabi Muhammad. Di bawah tekanan mereka, ia menarik perlindungan marga terhadap Nabi Muhammad jika ia tidak menghentikan dakwah dan mengajarkan islam.

Karena di Makkah dakwah Nabi Muhammad mendapat rintangan dan tekanan, pada akhirnya Nabi memutuskan untuk berdakwah di luar Makkah. Namun, di Thaif beliau dicaci dan dilempari batu sampai beliau terluka. Hal ini  semua hamper menyebabkan Nabi Muhammad putus asa, sehingga untuk menguatkan hati beliau, Allah SWT mengutus dan mengisra’ dan memi’rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini menggemparkan masyarakat Makkah. Bagi orang kafir, peristiwa ini dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan Nabi Muhammad. Sedangkan bagi orang yang beriman ini merupakan ujian keimanan.

Nabi Muhammad di Ka’bah juga mendekati empat suku pengembara yang sedang berada di makkah untuk menghadiri suatu perayaan keagamaan, tetapi usaha ini tidak banyak membawa hasil. Pada musim ziarah tahunan ke makkah pada Juni 620 M. Enam orang peziarah dari Madinah menemui Nabi Muhammad dan terkesan dengan kepribadian dan pesan-pesannya sehingga lima dari enam orang tersebut  di tahun berikutnya kembali menemuinya dengan membawa tujuh orang tambahan. Hasilnya mereka yang berjumlah duabelas sepakat menerima Muhammad sebagai Nabi dan rasul, tunduk dan menghindari perbuatan dosa; peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Bai’ah ‘Aqabah pertama.

Untuk menyiapkan jalan bagi Muhammad dan meyakinkan keadaan bahwa tempat tersebut kondusif bagi diri dan pengikutnya, Muhammad mengirim  seorang pengikut terpercayanya bersama dengan dua belas orang tersebut ke Madinah.  Orang ini mengajarkan Islam kepada orang-orang Madinah dan hasilnya sangat sukses dengan tidak kurang dari 75 orang, termasuk dua orang wanita, mengunjungi Makkah untuk melakukan Ziarah pada Juni 622 M. Mereka bertemu Muhammad secara rahasia diwaktu malam hari, dan bersumpah tidak hanya menerima Muhammad sebagai nabi, menghindari perbuatan dosa, tetapi juga berjuang demi Allah dan Utusannya. Inilah Bai’ah Aqabah kedua atau sumpah perang.

Setelah itu barulah kaum Muslim Makkah bermigrasi ke Madinah dalam kelompok-kelompo kecil. Menjelang September 622 M semua orang yang bermaksud imigrasi berangkat meninggalkan Makkah, terpisah dari Muhammad, Abu Bakar, Ali dan keluarga mereka. Pada saat itu orang-orang Makkah yang memusuhi Muhammad semakin curiga dan menyiapkan rencana untuk membunuhnya. Karena keadaan tersebut, Muhammaddan Abu Bakar melakukan perjalanan rahasia di malam hari, dengan meninggalkan Ali tidur di ranjang Muhammad. Akhirrnya ia dan Abu Bakar bisa selamat sampai di Madinah dengan memperoleh sambutan yang hangat. Perpindahan Muhammad dan pengikutnya ke Madinah dikenal sebagai Hijrah atau imigrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar